Jumat, 30 Desember 2016

Day #2 Writing Challenge “Something You Feel Strongly About”

Hari kedua, temanya adalah “Something you feel strongly about.” Mengintip sebuah blog yaitu blog ini, katanya, tema ini kalau diartikan secara harfiah artinya sesuatu dimana kita concern terhadapnya atau punya perasaan yang kuat dan kita punya opini bahkan gerakan terhadap sesuatu itu. E, gimana maksudnya? #gagalfokus

Terus terang tema ini agak sulit karena em..saya concern terhadap banyak hal. Maklum anaknya perhatian banget. I'm concerned about people who always throw garbage on the road, saya tertarik akan kasus-kasus misterius yang sulit dipecahkan (saya silent readernya blog enigma, btw), saya memiliki perasaan yang kuat dan mendalam mengenai kasus-kasus pelecehan dan perkosaan, saya selalu bersemangat mengikuti berita kriminal yang menimbulkan tanda tanya besar, saya menaruh minat akan banyak hal.

Nah, untuk postingan hari kedua di writing challenge ini, saya mau bahas yang ringan-ringan saja, kebetulan gambar ini lagi sering berseliweran di otak saya.

sumber gambar di sini 

Gambar itu membuat saya menyadari kalau memang kita mudah menunjuk. Kita yakin sekali kalau ada orang lain yang memikirkan bumi ini sehingga kita tidak perlu ikut peduli. Contoh kecil tentang membuang sampah sembarangan. Saya sendiri tidak tahu sejak kapan saya merasa terganggu dengan pemandangan orang yang membuang sampah dengan santainya dari jendela mobil, di jalan raya,di dalam kereta, di dalam bus, bahkan di sebelah kotak sampah. Iya, di sebelah kotak sampah

Oh iya, cerita sedikit. Beberapa minggu yang lalu saat sedang diundang untuk ikut mempromosikan pariwisata Pulau Pahawang (kamu bisa baca soal Pulau Pahawang di sini) dalam kegiatan jelajah pulau, saya agak miris. Saat itu pembawa acara wanti-wanti mengingatkan peserta untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama di sekitar pulau. Namun, beberapa menit setelah acara ditutup dan semua peserta beranjak menuju kapal untuk kembali ke tempat awal, sampah gelas air mineral dan bungkus makanan bertaburan di bawah kursi peserta. Mungkin kalau ditanya, jawabannya adalah, nanti kan ada petugas kebersihan. Iya benar, sampah-sampah itu mungkin akan sampai di tempat pembuangannya dengan selamat sentausa, tapi, yang saya khawatirkan di sini bukan sampahnya, Mas, Mbak. Ini soal tanggung jawab manusia yang katanya diutus ke dunia sebagai rahmat bagi semesta. #tsah

Saya tidak sedang bicara tentang penyelamatan bumi, saya tidak sedang bicara tentang efek yang ditimbulkan saat sampah itu bertumpuk di jalan, di sungai, di saluran air, bahkan di perut hewan. Saya hanya  bicara tentang kebiasaan yang sudah seharusnya hilang. Mulai dari hal kecil ini, mulai dari diri sendiri. Kotak sampah tidak pernah sejauh hubungan dengan mantan. Simpan sebentar sampahnya di dalam tas atau saku, jalan sedikit, sudah bisa bertemu dengan kotak sampah. Sekali, dua kali, tiga kali, lama-lama nurani akan beradaptasi. Dia akan menimbulkan perasaan ditimpuki saat melihat sampah yang dibuang ke kali, dia akan merasa ditampar saat melihat sampah dilempar, saat itu terjadi, yakinlah apa yang dikatakan Rudi. *kibas rambut*

People will not change their habbits until they're forced to change. Jadi dipaksa saja. Bukan saya yang memaksa, bukan juga orang lain, tapi diri sendiri. Konon, memaksa diri sendiri itu adalah hal yang sulit karena kita tidak memberi punishment untuk diri sendiri. Kita senangnya memberi reward. Sukses diet sehari, besok rewardnya makan sepuasnya. Sukses tidak belanja baju sebulan, rewardnya belanja sepatu sebulan, gitu terus sampai Trump jadi Presiden AS. Eh, udah ya?

Jadi, gitu deh hari kedua. Masih sok serius juga. Selamat memaksa diri sendiri :)



6 komentar:

  1. Aku juga sebal banget tuh kalau lihat orang buang sampah sembarangan dari mobil. Kok kayaknya enak banget gitu. Seringnya lagi yang buang sampah sembarangan begitu dari dalam mobil-mobil mahal. Pengen aku caci maki rasanya bisa beli mobil, tapi mentalnya rendah. Halah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, rasanya pengen unyel-unyel mukanya pake kantong plastik ya.

      Hapus
  2. Aku nggak habis pikir kenapa ada "yakinlah apa yang dikatakan rudi" nyelip di sana. Itu iklan lama bgt gilak. Kok bisa2nya terlintas ke situuu... ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, jadi pas iklan itu keluar Tan Sis udah lahir? Oh ternyata...kita seumuran :(

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus