Sabtu, 07 Januari 2017

Day #9 "How Important You Think Education Is"

Saya ketiduran jadinya telat posting. Eh, bahasa 'ketiduran' ini, waktu jaman saya kuliah, setiap habis bilang 'ketiduran' pasti langsung ada seorang teman yang namanya Egi tidak usah disebut, ikut komentar, "Ketiduran siapa?" *abaikan*

Temanya agak serius dan saya baru saja bangun tidur gara-gara dengar Om Taurus buka pintu kamar entah dari mana. Mungkin ngubek-ngubek kulkas cari cemilan. Saya jadi nggak bisa tidur lagi dan keingetan belum posting hari ke #9. 

Pendidikan ini sebenarnya terlalu luas untuk dibahas. Jadi saya kasih batas sendiri kalau ini soal pendidikan formal. Setuju? Ya terserah. 

Eh, random sebentar karena tiba-tiba saya keingetan sebuah adegan. 
Waktu itu Zahir saya bawa ke playland dan ketemu teman-teman barunya. Saat saya ajak dia untuk makan siang, dia pun berpamitan dengan teman-temannya yang baru dia kenal kira-kira satu menit yang lalu. Mungkin teman-temannya itu sebelumnya tidak pernah bertemu dengan bocah sok akrab yang baru ketemu satu menit dan langsung pamitan dengan bahasa yang sangat formal.
"Teman-teman, Zahir makan siang dulu, ya!" (Berteriak dengan penuh semangat!) 
Teman-teman barunya langsung lirik-lirikan. Bingung mau menjawab apa. Akhirnya ada satu anak yang memberanikan diri untuk bilang, "Ya udah," disusul satu anak lagi yang bilang, "Ya, terserah" dan saya pun ngakak gede banget. 
Saya ngakak kenapa ya? Ya bagi saya itu lucu banget karena saya membayangkan perasaan bocah-bocah itu yang ditodong dengan keharusan menjawab sapaan pamit. Kalau orang dewasa kan pasti bakal jawab, 
"Iya, ati-ati ya." atau "Makan di mana? Have fun." 
Kalau saja kita mencoba menjawab, "Ya, terserah" ke orang yang pamitan pasti langsung ada perasaan tidak enak. Tapi anak kecil tidak. Dengan polosnya dan tanpa basa-basi dia menjawab,  "Ya, terserah." Kalau dia bisa menjawab lebih panjang mungkin dia akan menjawab, 
"Ya terserah, kan kita juga baru kenal. Kamu mau makan ya terserah kamu, mau pulang juga terserah kamu. Biasa aja kali. Kita nggak dekat-dekat amat, kok!" 
Astaga, random saya bisa sepanjang itu. Kembali ke topik soal pendidikan. Menurut saya, tujuan dari sebuah pendidikan tidak melulu soal kecerdasan akademik tapi juga pembentukan karakter. Sering ada pemikiran bahwa untuk apa dulu saya belajar kimia, fisika, matematika toh nyatanya sekarang saya bekerja di kantor pemerintahan di mana ilmu fisika hanyalah kenangan dan ilmu matematika hanya terpakai saat membuat anggaran, itu pun sudah dibantu rumus-rumusnya excel. Tapi, kalau saya tidak mempelajari semua itu, mungkin saya tidak akan belajar bagaimana saya harus berusaha keras untuk mendapat nilai-nilai bagus di mata pelajaran eksak, bagaimana saya harus tekun menyimak dan disiplin les sana-sini untuk mendapat nilai bagus yang tidak  kunjung bagus-bagus. Intinya, kalau saya hanya mempelajari hal-hal yang mudah, hal-hal yang saya kuasai dengan cepat, maka saya tidak akan pernah belajar banyak hal. Ternyata pemikiran itulah yang akhirnya tertinggal dan melekat dari sisa-sisa pendidikan yang tadinya saya anggap tidak ada gunanya.

gambar dari sini

Selain itu, pendidikan akan mempertemukan kita dengan banyak orang yang sama-sama memiliki keinginan untuk terdidik. Diskusi-diskusi ringan dengan orang yang tepat akan membuka pikiran kita yang sempit. Pertemuan dengan banyak orang yang beraneka latar belakang akan melatih kita untuk bijak dalam bersikap dan menempatkan diri. Konflik-konflik kecil yang terjadi dalam lingkup pendidikan pasti menuju suatu pembelajaran baru dan juga pendewasaan. 

Bagi saya pribadi. Pendidikan mempertemukan saya dengan hal yang sampai saat ini masih saya cintai. Yaitu membaca. Kalau orangtua saya tidak mengirim saya ke bangku sekolah (walaupun saya bisa saja belajar membaca dari mama yang seorang guru sekolah dasar yang mana sangat tidak mungkin kalau beliau tidak menyekolahkan saya mengingat profesinya), saya tidak akan menemukan keseruan membaca di perpustakaan sekolah, saya tidak akan bertemu dengan Ayu Cahya, teman saya SD yang sangat suka membaca dan membuka penyewaan komik di sekolah (dia membawa list komik dan buku yang dia punya lalu siapa yang berminat akan dicatat, besoknya dia bawakan komik-komik pesanan itu ke sekolah), saya tidak akan bertemu Aya, teman saya yang sejak SD sudah sangat dewasa dalam pemikiran dan kami banyak menghabiskan waktu berdua saat kelas 4 atau 5 SD untuk berdiskusi tentang 'Manfaat Gosip dalam Kehidupan,' dan mungkin saya tidak akan berani mengirim tulisan saya ke majalah Bobo yang menjadi awal kecintaan saya terhadap menulis. 


Lalu, jika saya tidak menulis, mungkin saya tidak akan dipertemukan dengan penulis-penulis hebat, muda, produktif dan sangat menyenangkan seperti Furqonie Akbar, Farrahnanda, Asmira Fhea, Haeruddin, Sayfullan dll. Saya juga tidak akan dipertemukan dengan Pak Edi Mulyono, 'orang gila' yang punya dedikasi besar terhadap dunia sastra, saya tidak akan bertemu Siska Nurrohmah, perempuan yang mengagumkan dalam segala hal. Saya tidak akan mengenal lebih dekat insanayu, Teteh kembar dan kreatif Eva dan Evi, juga blogger-blogger lain yang postingannya selalu saya tunggu ;). Saya tidak akan memiliki pemikiran untuk mendirikan Jendela O' Publishing House bersama Siska, Deasy, Refa, dan Ocha yang telah menerbitkan dua buku berjudul Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta karya Suarcani dan A Place You Belong karya Nico Macchi *sekalian promo* 

Dan saya juga mungkin tidak akan akrab dan bisa bicara banyak hal dengan kamu, Mr. Anonim. 

Yang paling penting, pendidikanlah yang telah mengantar saya ke tempat saya berada sekarang. Pekerjaan yang sekarang, kegemaran yang sekarang, saya yang sekarang, dan suami yang dulunya teman SMP ;') Jadi, jika ditanya seberapa penting pendidikan buat saya, maka apa harus ditanya lagi? 

“Education is the ability to listen to almost anything 
without losing your temper or your self-confidence.” 

― Robert Frost

10 komentar:

  1. Tadinya aku pengen nulis dengan tema ini cuma bingung apa yang mau aku tulis. Ya sudah lah kalau begitu. Aku melanjutkan saja dari tulisanmu ini, Mbak. Terima kasih atas inspirasinya. Halah, lebay.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga bingung mau nulis apa sebenarnya. Makanya banyak randomnya. Hehehe...

      Hapus
  2. Kayak guru Bahasa Indoku pas smp-sma. Blio kalo denger orang nyebut 'ketiduran' responsnya, "saya nggak nidurin kamu." zzzzz
    *ini dari sekian curcolan tanGi, aku malah cuma nyangkut di paragraf pertama doang gini* ahahahaups.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan-jangan Guru Bahasa Indonesia kamu adalah temen aku!! Tapi aku gak setua itu, ih :(

      Hapus
  3. Sayaaaa sukaaaaa, partnya Zahir.

    BalasHapus
  4. 20% APBN atau brpalah gtu di alokasikan kesini artinya ini permasalahn yg serius...masalah pendidikan ini yg jelas asik,seru,menyenangkan jika lawan diskusi kita cocok,...klo gw paling cocok diskusi ttg pendidikan ini dg tiyas,klo kamu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diskusi soal pendidikan mungkin enaknya sama Pak Anis Baswedan, tapi kalau Pak Anis sibuk, sama Tama juga boleh :) Eh, tapi Tama itu suka bolos sekolah. Mungkin dia nggak suka kalau harus diajak diskusi soal pendidikan...

      Hapus
  5. Aku ngakak gede banget pas temennya Zahir bilang terserah. Zahir, you always made my day. :")

    Setuju banget sama semua poin, tanpa pendidikan saya jg ga akan ketemu2 mamanya zahir dan diperkenalkan dgn cerita2 Zahir. :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi kalau kamu liat ekspresinya pas bilang 'terserah' itu, Tan. Campuran antara bingung dan terpaksa jawab.


      Wkwkw, iya tanpa pendidikan, kita gak dipertemukan di asrama dan tahu semua cerita hidup dalam 2 hari ya, Tan.

      Hapus