Rabu, 04 Januari 2017

Zahir dan Kartu Pos Pertamanya.

Seharusnya, postingan ini saya pos beberapa hari yang lalu. Namun, kantor akhir-akhir ini lagi 'caper' sehingga saya dipaksa memberi lebih banyak waktu untuknya.

Sejak saya mengepos foto tentang Zahir yang saya kirimi surat dan dibaca lalu dibalas olehnya, beberapa orang teman dan keluarga berniat untuk mengirimi Zahir surat. Saya sih girang banget karena itu berarti ada kesempatan lagi untuk membuat Zahir bersenang-senang dengan bacaan. 



Sabtu kemarin, tanggal 31 Desember 2016, Zahir mendapat kartu pos pertamanya. Tapi berhubung Zahir sedang di rumah eyang, Opa yang menerima kartu pos tersebut. Dia agak heran karena ada kartu pos untuk Zahir. Tapi setelah dia menelepon saya dan saya jelaskan ceritanya, beliau tertawa-tawa. Tidak sabar juga mungkin melihat reaksi Zahir.

Bebarapa hari kemudian, barulah Zahir bertemu dengan kartu pos yang dikirim oleh Tante Falah di Jogja. Begini penampakannya...


Kartu pos ini sangat menarik karena gambar depannya adalah karya dari Farrah sendiri. Dulu kalau tidak salah ingat saat pembicaraan di grup whatsapp, gambar ini pernah dia ikutkan di ajang lomba apa gitu...*pengingat yang buruk* tapi untunglah saya ingat kalau gambar ini adalah gambar ibu pertiwi. Kalau tidak ingat, maka pertanyaan Zahir akan bertambah panjang.

Ini gambar apa, Mah? 
Gambar Ibu Pertiwi  
Ini ibu-ibu?  
Ibu pertiwi beda dengan ibu-ibu.
Ibu pertiwi apa? 
Tanah air. Zahir tahu lagu Indonesia tanah air beta, kan? 
*terdiam, berusaha mengingat* 
Jadi ini ibu pertiwi yang retak-retak? Retak-retak kenapa? 
Itu retak-retaknya pas di bagian yang banyak gedung aja. Jadi tanahnya nggak bagus kalau banyak gedung. Tanahnya bagus kalau ditanami pohon, nggak reta-retak. 
*dalam hati memohon maaf kepada Farrah karena menafsirkan masterpiecenya sesuka hati* 
Kok, kertasnya masih banyak yang putih? Tante Fallah lupa ya ngewarnain? 
Bukan lupa, itu memang sengaja nggak diwarnai. 
Sini, Zai warnain aja pake spidol Zai! 
Jangaaan...*menyelamatkan masterpiece Farrah ke atas lemari*

Beberapa hari sebelum kartu pos itu dikirim, saya sudah wanti-wanti dengan Farrah untuk menggunakan bahasa yang ringan seperti cemilan sehingga Zahir tidak kesulitan membacanya. Dan inilah pesan yang Farrah kirimkan untuk Zahir.
Suka sekali. Terima kasih Tante Fallah, sudah membuat Zahir senang :) 

THE END

3 komentar:

  1. tante boleh kirim ke zahir nggak? ada kartu pos lucu-lucu nih ada misinya... ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh banget, Tante Lulu. Kirim dong ke Zahiir...

      Hapus
    2. Alamat dong bun... Di email juga boyeee

      Hapus