Minggu, 19 Maret 2017

#DailyGratitude 6 : Rawon Eyang

Ini gambar paling mirip sama rawon eyang. Sumber dari sini 

Soal saya dan rawon ini ada sedikit cerita. Dulu, sebelum dekat dengan Om Taurus, saya sama sekali tidak tahu apa itu rasanya rawon. Bentuknya pun saya tidak tahu. Nah, waktu itu sekitar tahun 2007, saya dan Om Taurus bertemu lagi setelah terpisah hampir delapan tahunan #miriptalikasih. Kami makan di sebuah rumah makan di Jogja. Saya lupa namanya. Yang pasti, rumah makan itu menyediakan rawon. Tapi saya tidak memesan rawon, tentu saja. Wong bentuknya saja saya tidak tahu. Om Taurus yang memesan rawon. Saya memesan apa ya? Lupa. 

Saat pesanan kami datang, saat itu juga datanglah pengamen menyanyikan lagu "Jogjakarta" yang menambah syahdu suasana Jogja. Tapi bukan itu ceritanya. Hahaha...Saat rawon datang, saya melihat semangkuk makanan berkuah berwarna hitam pekat. Om Taurus bilang, "Rasanya aneh, nggak kayak rawon." Saya ikut mencicipi. Lalu saya bingung mau komentar apa karena saya tidak tahu rawon itu rasanya apa. Lalu saya bertambah bingung kenapa saya ikut mencicipi? Kalau tujuannya untuk menanggapi omongan Om Taurus tentang rasa rawon tentu tidak ada gunanya karena setelah dipikir secara mendalam, itu adalah tetesan - tetesan pertama kuah rawon yang mampir di lidah saya sejak saya lahir di dunia. Jadi tujuan saya ikut mencicipi apa? Oh, ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah karena saya mau tahu rasanya rawon. Dan rawon pertama yang saya cicipi adalah rawon yang menurut Om Taurus aneh dan nggak kayak rasa rawon. πŸ™Œ

Akhirnya setelah menikah, barulah saya menemukan kecintaan #ciye pada rawon. Terutama karena Eyangnya Zahir sangat pintar memasak rawon. Kepintaran Eyang memasak rawon ini sempat saya singgung sedikit di cerpen saya yang beberapa puluh tahun lalu sempat numpang duduk di tabloid Nova. Saya simpan cerpennya di sini. Tuh, kan saya memang sukanya pinjam-pinjam karakter orang 😢. Dan kemarin, Eyang masak rawon lagi. Yeay! Rawon daging dengan nasi hangat ditambah sambal terasi. Alhamdulillah. Rasa syukur saya hari ini karena makanan enak lagi.

6 komentar:

  1. Ealah cerpennya sampe bisa masuk Nova lho. Cerpen2 bagus menurut saya hanya dimuat di tiga media: majalah Hai (lama), Kompas & Nova. Penulis2 yg memajang namanya disitu selalu saya anggap penulis yg bagus. Ternyata saya berteman dengan salah satunya. Salute πŸ™

    *mengabaikan soal rawon sama sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tempo juga, Mas. Dan Farrah cerpennya pernah dimuat di sana. Farrah junjunganku.

      Hapus
  2. Kayaknya aku belum pernah makan rawon deh. Boleh gak kalau suatu saat, pas Eyang masak rawon, Mbak Anggi ajak aku makan rawon? Ihihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh, boleh. Tar kalau eyang masak rawon, aku kabarin ya. Apa aku fotoin aja? Hehehe...

      Hapus
    2. Kabarin lah. Terus, kirim ke rumahku. =))

      Hapus
  3. Om Yama juga suka banget dengan rawon, Tan... tapi aku udah suka sejak kuliah, dulu ada warung rawon enak tepat di sebelah kamar mayat. *kok ceritanya jadi horor gini, ya... >.<

    BalasHapus