Sabtu, 11 Maret 2017

Day 21 : Memposting Semua #Misi21 yang Belum Diposting

Postingan ini akan menjadi postingan yang sangat panjang karena setelah ratusan purnama tidak posting di blog ini, saya memutuskan misi terakhir ini adalah Memposting Semua #Misi21 yang Belum Diposting karena alasan ini dan itu. Postingan terakhir saya berhenti di Day 5 : Tidak Membuka Socmed 12 Jam jadi saya akan mengawali postingan ini dari hari ke 6 hingga hari ke 21.


Day 6 : Minum yang Banyak Sebelum Makan
Sumber air suda dekat gambar dari sini

Terkait misi sebelumnya. Saya sempat bilang kalau tips sering lapar adalah minum dulu. Siapa tahu, dia adalah rasa haus yang lagi nyamar jadi rasa lapar. Misi ini sebenarnya terinspirasi dari tips diet seorang artis. Katanya, dia berhasil menurunkan beberapa kilogram karena selalu minum air yang banyak sebelum makan. Nah, dikutip dari sini

"...orang dewasa yang minum dua gelas sebelum makan kehilangan berat badan sekitar 4 lb atau setara 1,814 kilogram lebih banyak, dibanding mereka yang tidak minum air. Penelitian itu merupakan salah satu dari 11 studi tentang efek minum air pada pola makan yang direview oleh para ahli dan dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutritrion.Tiga penelitian lainnya yang di-review juga menyatakan bukti yang jelas bahwa konsumsi air dapat membantu meningkatkan kesuksesan penurunan berat badan."

Lalu, masih menurut artikel yang sama.

"Rebecca Muckelbauer, peneliti dari Berlin School of Public Health, CharitΓ© University Medical Center Berlin, Jerman yang memipin review riset tentang air menyatakan, rasa kenyang adalah alasan utama seseorang kehilangan berat badan. Tetapi ia juga menduga ada alasan lain di balik fenomena ini yaitu efek thermogenesis yang dipicu oleh air. Ia mengatakan, minum air juga dapat meningkatkan pengeluaran energi dari dalam tubuh."

Rasa kenyang adalah alasan utama seseorang kehilangan berat badan! *garis bawahi, bold, italic*


Jadi, kalau kita minum banyak-banyak, kita bakal kenyang. Juga kembung dan ke kamar kecil terus.


Day 7 : Berani Berkata Tidak Jika Tidak Nyaman
Sumber gambar dari sini

Saya orang yang sangat easy going. Apabila sudah merasa dekat, jarang sekali saya bisa menolak permintaan orang dekat tersebut. Toleransi saya terhadap sikap atau sifat seseorang yang sangat dekat, sangat tinggi. Tidak hanya tinggi, ia juga luas dan besar. Pemakluman demi pemakluman pasti saya lakukan apabila orang tersebut telah bisa membuat saya merasa nyaman. 

Saya tahu tidak baik. Hati kecil saya pun menyadari bahwa itu tidak akan pernah baik untuk saya atau pun orang-orang dekat itu. Tapi suara hati kecil itu rasanya sudah terlalu sering saya abaikan hingga suaranya mulai mengecil. Mungkin dia bosan. Mungkin juga suaranya mulai serak karena terlalu lama berteriak. 

Pemakluman, tidak boleh tak terbatas. Ia harus punya garis yang mengitari untuk saya menyadari bahwa ada hal-hal yang nanti menyentuh garis itu dan membunyikan alarm peringatan bahwa ini sudah kelewatan. Dan di sinilah saya saat ini, mencoba menajamkan telinga saat suara lirih sekali lagi mencoba mengingatkan, bahwa ada yang telah melewati garis pemakluman. Saya punya pilihan. Mendiamkan atau untuk kali ini, mendengarkan baik-baik. Mengambil sikap baik-baik. Saya memilih yang kedua. Tentu ada yang akan berubah bahkan mungkin hilang. Tapi selain itu, saya rasa semua akan baik-baik saja. 



Day 8 : Membuat Obat Tradisional
Sumber gambar dari sini
#Misi21 kali ini benar-benar hal yang baru. Saya jarang tertarik dengan obat-obatan tradisional. Padahal dulu, waktu kecil, Mama punya sebuah buku berwarna hijau yang berisi resep-resep obat tradisional. Pada saat itu, itu sangat menarik. Sensasinya sama seperti membaca buku resep. (Ya, saya suka membaca buku resep, tapi tidak pernah diaplikasikan 😁) Membayangkan daun ini dicampur dengan daun itu, ditambah rempah ini, diberi perasan itu, sebelum diperas si ini dibakar dulu, lalu ini dan itu bersama-sama direbus sekian menit, airnya disaring lalu diminum akan berkhasiat meredakan ini atau mengecilkan itu. Saya mungkin dulu sudah berkenalan dengan Merlin, penyihir yang ahli membuat ramuan-ramuan ajaib. Eh, itu Merlin bukan? Serius saya asal comot nama yang melintas di kepala. Demi janggut Merlin!


Sampai akhirnya Zahir batuk. Padahal baru sekitar seminggu yang lalu dia ke dokter. Di lingkungan sekolahnya ternyata banyak yang sedang batuk juga. Saya agak pusing kalau Zahir mulai sakit. Setiap Ibu pasti begitu. Kepikiran. Padahal anaknya ceria-ceria saja. Karena belum mau ke dokter lagi, saya tiba-tiba kepikiran waktu kecil pernah dicekoki sesendok minuman yang rasanya asam manis oleh Mama kalau sedang batuk. Jeruk nipis plus kecap! 

Saya googling cara buatnya dan kegunaannya. Katanya, perasan jeruk nipis ini mengandung minyak astiri dan zat lainnya yang dapat mengontrol otot-otot di pernafasan yang berguna meredakan batuk. Kalau kecap (bisa diganti madu atau air gula) hanya tambahan saja biar jeruk nipisnya yang asam luar biasa bisa keminum. Jadi cara membuatnya, jeruk nipisnya diperas satu sendok teh, ditambah kecap, selesai. Kalau bos saya dulu bilang, setelah jadi satu sendok teh, sendoknya dipanaskan di api. Tetangga depan rumah saya bilangnya jeruknya yang dipanaskan di api. Dibakar sebentar. Saya nggak tahu gunanya apa, mungkin TanSis bisa bantu jawab? Ahahaha...

Tapi akhirnya saya memilih membakar jeruknya, dibelah, lalu diperas untuk memenuhi satu sendok teh, baru ditambah kecap sedikit. Zahir tidak suka rasanya. Saya juga. Kayaknya rasanya nggak sama seperti rasa yang (hilang) ada di bayangan saya.



Dan twist endingnya adalah kata papa saya, jeruk yang saya ambil, bakar, belah, peras, kasih kecap, lalu kasih ke Zahir bukanlah jeruk nipis. Tapi jeruk sambal. Tapi emangnya harus jeruk nipis ya? Sekian.



Day 9 : Tidak Menggunakan Kata Umpatan/Pisuhan
Gambar dari sini 

Saya tidak tahu sejak kapan kebiasaan menggunakan kata umpatan ini saya miliki. Kata-kata umpatan yang saya maksud adalah semacam makian namun konteksnya bercanda. Tapi tetap saja, itu tidak akan nyaman bagi orang yang mendengar apabila ia tidak terlalu akrab dengan saya. Kata-kata umpatan itu macam "Anjritlah" lalu ada "Cupu" ada lagi "Geblek" dan "Kampreto", "Tolila" dst...



Kata-kata ini biasanya bertebaran dari mulut saya saat sudah berkumpul dengan teman yang benar-benar akrab di mana kami bisa saling membully tanpa beban. Jadi hanya untuk pergaulan. Tentu bukan pembenaran. Ini tetap tidak baik. Oleh karena itu, di #Misi21 hari ini, tidak mengumpat saya jadikan sebuah goals karena saya takutnya, mulut saya yang tadinya bisa memfilter tempat bicara dan lawan bicara, tidak bisa lagi melakukan hal tersebut karena sudah terlanjur biasa. Saya takut dicontoh karena bagaimanapun saat ini ada seorang murid yang setiap hari mengamati tingkah laku saya dan belajar meniru dari sana. 



Pengakuan dosanya adalah, saya melakukan #Misi21 ini di hari libur di mana saya tidak bertemu dengan teman-teman akrab. Tentu saja misi ini sukses besar. Tapi bisalah saya anggap pemanasan. Besok-besok saya akan mencobanya di hari kerja.

Day 10 : Meminta Maaf tanpa Tapi
Sumber gambar dari sini
Selalu akan ada keadaan di mana kita merasa benar tapi harus meminta maaf. Selalu akan ada keadaan di mana kita tidak memahami apa kesalahan yang kita buat tapi harus meminta maaf. Saat itu, tentu berat untuk mengucap kata 'maaf' terlebih tanpa kesempatan untuk menjelaskan yang terjadi. Meminta maaf hanya untuk membuat keadaan menjadi baik, meminta maaf hanya untuk membuat seseorang merasa nyaman, meminta maaf dengan anggapan bahwa kita benar-benar telah melakukan kesalahan.

Tapi itu tetap saya lakukan setelah dengan susah payah akhirnya menyadari bahwa meminta maaf tanpa tapi adalah salah satu sarana untuk belajar ikhlas. Salah satu cara untuk belajar yakin bahwa Allohlah yang Maha Menilai. Penilaian selain penilaian-Nya adalah penilaian yang tidak akan membuat kita menjadi lebih baik atau buruk di mata-Nya.

Day 11 : Mencoba Maskapai yang Dibenci Suami
Sumber gambar dari sini
Om Taurus selalu wanti-wanti kepada saya untuk tidak naik salah satu maskapai penerbangan apabila berpergian. Kali ini saya tidak nurut. Tidak nurut karena bukan saya yang membeli tiket. Pesawat dijadwalkan berangkat pukul 15.40 dan seperti yang sudah diduga, delay. 1 jam lebih. Saya baru berangkat sekitar jam 5 sore. Snack yang diberikan karena delay, sama sekali tidak mengobati keterlambatan yang saya alami. Niat saya membeli beard papa's di Soeta kandas karena setibanya di Soeta, kami diburu-buru untuk segera naik ke pesawat berikutnya menuju Jogja. Masih dengan maskapai yang sama. Jadi ternyata terlambat atau on time, maskapai ini sama sekali tidak memberi pengalaman bepergian yang menyenangkan.

Day 12 : Lumpia Samijaya

Cerita tentang Lumpia Samijaya saya taruh di sini.

Day 13 : Kopdar with Mas RD dan Farrahnanda

Cerita kopdar kami, bisa dibaca di sini


Day 14 : Membeli Buku Puisi


Ceritanya ada di sini


Day 15 : Menonton Drum Band Gita Ceria

Zahir hari ini lomba drumband! Videonya nanti saya upload di sini untuk kenang-kenangan. Pertama kalinya saya nonton #yaiyalah. Tapi ambil gambarnya hanya boleh dari lantai atas kalau tidak nanti mengurangi nilai. Kan KZL. Padahal endingnya, semua sekolah dapat piala sih, tahu gitu kan saya cuek ambil video Zahir dari depan, tidak perlu nyuruh auntynya Zahir ke lantai dua dengan hasil video yang sangat tidak maksimal karena jauh. Mau dizoom juga pecah. Huft...#nasibpocketcam. Tapi hari ini saya senanglah. Zahir tadi pagi agak bete karena topinya. Benar-benar nggak mood untuk pakai topi karena memang anaknya suka risih dengan yang ribet. Om Taurus banget. Sampai baris mau masuk lapangan untuk tampil pun  mukanya masih bete, di menit-menit awal, matanya masih nyari-nyari saya di belakang. Keliatan banget dia celingukan karena pesannya ke saya sebelum masuk arena tempur adalah, "Mama di sini aja ya." 

Lah, kalau saya tetap di situ (belakang) kan saya cuma lihat punggung dia aja. Jadi begitu barisannya tampil, saya langsung melesat ke depan. Tidak peduli dengan suporter ibu-ibu TK yang sama yang berkumpul di sisi kanan panggung dengan seragam kembar, saya ke kiri panggung sendiri. Tempat terdekat dengan Zahir. Supaya Zahir gak celingukan lagi. Penampilannya gimana? Well, untuk standar saya yang nggak pernah ikut drumband, itu sih bagus. Hahaha...Drumband Gita Ceria unggul di pemilihan lagu yang familiar (Laskar Pelangi, Andaikan Aku Punya Sayap, Pelangiku) dan ketepatan irama. Jarang saya dengar meleset #sokkomentator. Zahir juga walaupun tampak tidak fokus tapi pukulannya tidak meleset. Wajar mengingat dia sudah membuat satu mainan drum di rumah jebol dan satu stik drum patah. Tapi kekurangan Zahir adalah, dia malas banget kalau ada gerakan badan gitu. Jadi cuma geser kaki sedikit aja. Saya sih agak maklum karena beban yang dia bawa itu lumayan berat untuk anak semungil Zahir, ditambah dia tidak nyaman dengan topinya. Tapi jadi terlihat kurang seragam. 


Day 16 : Mencoba Bakso Upil

Cerita tentang bakso upil, saya taruh di sini



Day 17 : Makan Es Krim Glico Wings


Cerita tentang es krim Glico Wings, saya taruh di sini



Day 18 : Memulai Cerpen Kampus Fiksi Emas



Kampus Fiksi Emas adalah event tahunan yang diadakan oleh Penerbit Diva Press untuk memperingati hari lahir Kampus Fiksi. Event itu biasanya adalah berupa lomba menulis cerpen yang pesertanya khusus anak-anak Alumni Kampus Fiksi. Nantinya, cerpen-cerpen yang dikirimkan itu akan dinilai oleh para dewan juri yang sangat kompeten dan kadang dirahasiakan namanya. Kumpulan cerpen-cerpen pemenang nantinya akan dibukukan sebagai antologi. Saya baru sekali berkesempatan nongol di buku antologi tahunan tersebut. Sebagai alumni Kampus Fiksi, event ini bagi saya punya makna yang besar. Bukan hanya sebagai ajang lomba biasa, tapi juga sebagai bentuk kebanggaan saya sebagai alumni dan sebagai progress report tahunan mengenai kemampuan menulis saya. Setiap tahun paling tidak sekali saja, saya diminta untuk memberikan yang terbaik untuk event ini. Idealnya begitu, tapi apa daya, H-1 lomba, saya masih ditumpuki pekerjaan yang tidak bisa dihindari. Ya, saya belum bisa membagi waktu dengan baik memang antara menulis dan bekerja. (Memangnya menulis bukan bekerja? Hehe..)



Lomba akan berakhir besok. Ide baru muncul kemarin dan belum sempat dieksekusi satu paragraf pun. Akhirnya hari ini, saya kebut-kebutan. Ide yang mampir itu juga bukan ide yang sangat cemerlang. Ide itu bahkan membuat saya keluar dari gaya penulisan cerpen saya yang biasa. Tidak apa-apa, kalau tidak menang pun, saya sudah berusaha keluar dari zona nyaman saya. Delapan halaman belum diedit berhasil saya selesaikan hari ini. Berikut saya tampilkan paragraf pertamanya saja karena walaupun saya selalu jatuh cinta dengan tulisan saya sendiri, saya tidak yakin kalau orang lain akan mencintainya seperti saya. Itu satu-satunya alasan saya cukup jarang memposting tulisan saya sebelum itu dinilai baik oleh orang yang kompeten. Saya tidak percaya diri, btw. 😐

“Hari ini kita akan pergi ke suatu waktu. Hari di mana ratusan nisan tak bernama masih berwujud manusia yang hidup dan memiliki asa. Hari di mana mungkin saja Ayahmu menjelma menjadi hewan atau pahlawan, kita tidak tahu. Ayah yang tidak lagi bisa kamu temukan dalam puing-puing sisa kebakaran, Ayah yang katanya ikut berlari-lari saat teriakan sekelompok orang tak dikenal menyemangatinya untuk menjarah toko milik Koh Aseng, yang anaknya adalah temanmu saat kecil. Dulu kalian sering bermain di bawah jembatan layang. Tapi bukan itu Ayah yang kamu kenal, bukan? Kamu ragu mau percaya pada siapa karena di matamu, tidak akan bisa tergambar wajah Ayah yang serakah dengan menjarah. Ayah adalah ayah yang sederhana. Tidak suka meminta yang bukan dari hasil keringatnya. Tapi hati kecilmu tetap tidak yakin, bukan? Oleh karena itu kamu di sini. Jika kamu percaya pada kebaikbudian Ayahmu, tentu kamu tidak di sini. Mengikutiku. Bertanya. Mencari tahu.” Dia mengatakan kalimat sepanjang itu untukku.

Day 19 : Mengirim Cerpen Kampus Fiksi Emas

Hari ini adalah hari terakhir pengiriman naskah cerpen untuk Kampus Fiksi Emas. Grup mendadak sedikit sepi karena mayoritas dari kami adalah sangat tangguh, semakin ditekan, maka semakin kami berjuang. Kamilah DL-ers. Istilah yang disematkan mbak-mbak editor Kampus Fiksi untuk para penyebab email yang tadinya sepi menjadi bejibun menjelang jam 12 malam. Sebelum pergantian hari. Sempat ada drama Heru yang berhasil diabadikan oleh para mbak-mbak editor dan itu kocak banget hahaha...

Cerpen saya sudah selesai sekitar jam 9 malam tapi baru dikirim sekitar jam 11 malam. Bukan karena bolak balik membaca ulang cerpen untuk menemukan kesalahan tapi karena sibuk memilih foto diri dan mengedit data diri dalam bentuk narasi. Tadinya menulis data diri dengan formal tapi saat membaca data diri teman-teman yang lain, langsung merasa cupu' lalu diubah lagi #halah. Akibatnya, setelah mengirim cerpen, saya baru baca ulang dan ada kesalahan ketik dan kekurangan tanda petik. Hvvvt!


Day 20 : Mengunjungi Museum Fatahillah

Hari ini saya ada tugas negara ke Jakarta. Saya sanggupi karena ini PP, agak berat harus meninggalkan rumah lagi berhari-hari karena saya baru saja pulang dari Jogja. Eh, tapi beneran deh, sejak berkeluarga ini, saya kurang bisa menikmati perjalanan tanpa Om Taurus atau pun Zahir even itu perjalanan yang memang buat me time. Jadi mungkin benar ya kalau bersenang-senang saat me time itu sebenarnya sudah tidak ada lagi saat sudah berkeluarga (terutama kalau anaknya masih kecil), bisa saja saya menciptakan me time tapi kenyataannya, hati saya tidak pernah benar-benar bisa merasakan nikmatnya me time lagi. Dan saat ini, saya rasa, me time saya adalah family time. Atau saat di mana saya melakukan aktivitas untuk kesenangan pribadi tapi Om Taurus dan Zahir ada dalam jarak pandang saya. Seperti saat ini. Lah, kok saya jadi ke mana-mana ya bahasannya?

Jadi, hari ini saya ke Jakarta. Tujuan saya adalah dua kantor yang terletak di Ciracas dan Cililitan. Dua-duanya belum pernah saya kunjungi. Kunjungan pertama adalah kantor di daerah Cililitan. Selesai dari sana, teman saya mengajak ke Museum Fatahillah. Kebetulan saya juga belum pernah ke sana. Beberapa kali kunjungan ke Kota Tua, saya hanya pernah mengunjungi Museum Wayang. Di sana, tidak ada yang istimewa dan terlalu menarik perhatian saya. Mungkin karena saya juga tidak dalam mode travelling. Pengalaman pertama ini pun berlalu begitu saja tanpa sempat saya dokumentasikan dengan serius. 


Huft...selesai sudah #Misi21 saya. Sampai jumpa di postingan berikutnya yaaa...

7 komentar:

  1. Banyaaaaak.... jadi bingung mau komen yang mana, seru-seru. XD Paling nyantol sama twist ending jeruk nipis vs jeruk sambal sih. XD Aku juga nggak tau, tan, kenapa harus jeruk nipis ya? Kenapa nggak jeruk ponkam, atau mandarin, atau sunkist gitu?

    Hm... misteriyus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena jeruk nipis paling asem & murah *mbantu jawab* πŸ˜‚ Dulu rasanya pernah liat yg minum gitu campir kecap asin deh.. mungkin

      Hapus
    2. Ahahaha...jadi masalah jeruk nipis itu masih misterius, yah. Mungkin aku harus tanya Mbah Google dulu *emot mikir*

      Hapus
  2. Kalau saya biasanya make jeruk nipis kalau pas stok madu ada ya pake madu kalo pas g ada ya pake kecap. Hahaha, ga pernah ngerasain yang pake jeruk sambal. Tapi itu juga resep dari orang tua dan gak pernah nanya knp wajib jeruk nipis. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Inge. Apa jeruk nipis beda kandungan sama jeruk sambal ya? Misteriyuus...

      Hapus
  3. Jeruk nipis sama jeruk sambel itu yg beda rasanya... Hahaha. Kandungannya sih sama aja. Trus yaaa aku kayaknya tau deh ke ciracas sama cililitan itu ngapain.... Hahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaha...Aku baru pertama tuh ke yg di Ciracas sama Cililitan. Pakek nyasar pula.

      Jadi boleh, kan jeruk nipis diganti sama jeruk sambel? Ehehehe...

      Hapus