Kamis, 27 Juli 2017

Membuat Rekening BNI Taplus Anak

Gambar dari sini

Jadi, ceritanya, saya janjian dengan Tan Sis, empunya blog
katjamatahati.wordpress.com untuk posting blog setiap hari Senin dan Kamis. Biar apa? Katanya biar syar'i. Sebenarnya sih biar kedua tante ini sibuk cari kesibukan. Terus terang, sejak tulisan saya disetor ke penerbit, saya merasa ada rutinitas yang hilang. Hari-hari yang tadinya penuh target untuk membaca atau menulis beberapa halaman, jadi hilang arah dan tak tahu jalan pulang #halah. 


Intinya, saya butuh menulis lagi dalam bentuk apa pun itu agar terus senang. Tiap kali merasa hampa (aish hampa) begitu, saya langsung menghubungi Tan Sis. Mengajaknya ngeblog, atau ikut lomba, atau saling bertukar informasi soal penerbit apa yang butuh naskah apa. Hasilnya, beberapa bulan yang lalu, saya dan Tan Sis sibuk ikutan blog challenge. Blog challenge ini ternyata bermanfaat banget, buktinya gara-gara blog challenge, tampilan blognya Tan Sis jadi kece badai dan saya atas beberapa saran dari Kimi berhasil membuat blog ini tidak bikin sakit mata lebih layak untuk dibaca manusia. Makasi Kimciii...

Kamis ini, saya akan share sedikit pengalaman saya saat pertama kalinya membuka rekening BNI Taplus Anak. Niat untuk membuka tabungan anak itu sebenarnya sudah lama sekali muncul, tapi baru setelah anak saya naik kelas nol besar dan uang tabungannya di sekolah harus ditarik karena akan mulai penghitungan baru, niat itu akhirnya bisa terlaksana. Uang tabungan anak saya di sekolah itulah yang akan menjadi penghuni rekening nantinya. Memisahkan tabungan anak dari tabungan orangtua dengan membuka rekening atas nama si anak, menurut saya cukup penting karena walau jumlahnya tidak besar, itu akan menjadi momen yang baik bagi si kecil untuk belajar mengenai transaksi perbankan, juga kebiasaan menabung. 

Ada dua bank yang saya pertimbangkan untuk membuka rekening di sana, pertama BNI, kedua BCA. Kenapa? Karena dekat dari rumah ๐Ÿ˜. Iya sesimpel itu, tidak ada alasan lain. Saat itu, bank pertama yang saya kunjungi adalah BCA. Tapi di pintu depan, saya dicegat satpam yang bilang kalau BCA cabang ini (daerah rumah saya) belum melayani pembukaan rekening untuk anak. Memang sih, cabangnya masih baru dan tempatnya juga sangat kecil. Tapi rasanya sayang sekali kalau pihak bank tidak melihat potensi yang besar dari begitu banyaknya perumahan baru di daerah tempat saya tinggal. 

Akhirnya saya ke BNI yang jarak tempuhnya hanya butuh sekitar 10 menit berjalan kaki dari rumah saya. Di pintu BNI, saya lagi-lagi dicegat oleh satpam yang bilang kalau waktu istirahat hampir tiba. Karyawan di bank itu (yang juga cabang baru) hanya sedikit sehingga tidak bisa bergantian untuk istirahat makan. Artinya, secara halus, satpam tersebut menyarankan kepada saya untuk datang lagi setelah jam istirahat usai. Baiklah, untung rumah saya dekat sehingga saya bisa pulang dulu ke rumah. Nggak kebayang kalau rumah saya jauh. Saya pasti akan membatalkan niat untuk menabung di sana.

Sekitar jam 1 siang, saya kembali lagi ke BNI. Tidak lupa saya membawa persyaratan yang sudah saya cari tahu lewat beberapa website. Persyaratannya hanya akte kelahiran anak atau tanda pengenal (paspor atau kartu pelajar), KK, dan KTP orangtua. Simpel ya. Dan tentu saja uang yang akan ditabung minimal 100.000 rupiah untuk setoran pertama. Setoran selanjutnya minimal 10.000 rupiah saja. Kecil ya? Iya, dong. Namanya juga tabungan anak-anak. 

Ternyata antrean di CS cukup panjang dan hanya ada 1 CS yang melayani dengan ramah. Namnya Mbak CS. Tepat satu antrian di depan saya, adalah kedua orangtua dan anaknya yang masih bayi. Mereka juga mau membuka tabungan BNI Taplus anak. Untuk anaknya. Iya, anaknya yang masih bayik itu. Yang baru berusia 5 bulan. Wew...saat itulah saya merasa sangat ketinggalan ๐Ÿ˜ž. Saya pun curi dengar percakapan antara Mbak CS dan kedua orangtua itu. Eh, tidak perlu curi dengar juga kedengaran dengan jelas sih karena jarak meja Mbak CS yang sangat dekat dengan sofa tempat saya menunggu. Saya curi-curi dengar karena melihat kedua orangtua itu membawa akte kelahiran anak yang asli. Lah, saya membawa yang fotokopi. Saya takutnya disuruh membawa yang asli. Kalau iya, masa saya harus balik lagi, sih?! *sigh*. 

Dari hasil curi dengar itu ada beberapa informasi penting yang akan saya ingat-ingat :

Pertama, ATM untuk BNI Taplus Anak tidak langsung jadi, melainkan harus menunggu sekitar 2-3 minggu dulu karena memesan kartunya di Jakarta. Hm, lumayan lama juga ya. 

Kedua, untuk pengambilan di ATM, maksimal hanya 500.000 rupiah perhari. Penting untuk menghindari pengurasan isi rekening oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab...atau oleh Ibunya si anak yang hobi belanja. ๐Ÿ˜ถ 

Ketiga, sebelum ATM jadi, uang setoran pertama atau setoran selanjutnya, belum bisa diambil, walaupun dengan buku tabungan. Ini yang membuat kedua orangtua di depan saya, yang sepertinya mau menabung dalam jumlah besar mengurungkan niat itu, dan hanya menabung sesuai batas minimal saldo saja. Mereka takut ada kebutuhan mendesak yang mengharuskan mereka mengambil uang sebelum ATM BNI Taplus anaknya jadi. Keputusan bijak pikir saya. Saya pun memisahkan tiga per empat uang dari keseluruhan uang yang niatnya akan saya masukkan ke rekening BNI Taplus Anak setelah mendengar penjelasan Mbak CS. 

Keempat, orangtua tidak perlu khawatir anaknya akan diam-diam mengambil tabungan tanpa sepengetahuan orangtua karena, penarikan apa pun akan segera mendapat notifikasi SMS ke ponsel orangtua. Orangtua tinggal memilih saja, penarikanan minimal berapa yang harus dilaporkan lewat notofikasi sms. Kalau penarikan di bawah 250.000 rupiah dianggap tidak masalah, maka aktifkan saja pemberitahuan jika ada penarikan di atas nominal tersebut. 

Kelima, meskipun buku tabungan dan rekening adalah atas nama anak, semua transaksi di bank harus dilakukan oleh orangtua atau anak didampingi oleh orangtua karena tanda-tangan yang digunakan adalah tanda tangan orangtua. 

Keenam, saat anak berusia 17 tahun, BNI Taplus Anak  dapat dikonversikan ke produk lain yaitu BNI Taplus dengan nomor rekening yang sama, hanya produknya saja yang berbeda. 

Saat tiba giliran saya, ternyata saya baru menyadari bahwa Mbak CS adalah sahabatnya kakak sahabat saya. #ehgimana. Namanya Mbak Ica, jadilah selama dia memproses form aplikasi saya, kami banyak bertukar cerita. Padahal ini pertama kalinya kami ngobrol karena selama ini hanya kenal wajahnya saja. Mbak Icha memang menyenangkan, sih ๐Ÿ˜ƒ. Informasi yang saya dapat dari Mbak Icha sebagian besar sudah saya ketahui saat menunggu antrean tadi, jadi saya tidak banyak bertanya lagi. Setelah ngobrol dengan Mbak Icha juga saya tahu kalau ternyata jumlah nasabah yang mau membuka rekening untuk anak cukup banyak di daerah tempat saya tinggal. Tebakan saya tepat. Sayang sekali kalau BCA tidak segera menjual produk tabungan anak di cabangnya, ya...Oh, iya, aktenya ternyata boleh fotokopian dan siapkan juga uang 6000 rupiah untuk materai. 

Btw, untuk menghemat waktu, jika sudah yakin akan persyaratan yang dibawa, maka mintalah form aplikasi pembukaan rekening kepada satpam untuk diisi selama menunggu antrian CS. Jangan mengisinya saat sudah duduk di depan meja CS, karena percayalah, itu akan sangat menghabiskan waktu orang-orang yang ada di antrian berikutnya. 

Sampai blog ini diposting, ATM BNI Taplus anak saya belum di tangan karena memang dijanjikan di awal Agustus. Saya tidak tahu apa saya akan dikabari atau tidak kalau ATMnya sudah jadi, saya hanya diminta datang kembali di awal Agustus untuk menanyakannya langsung ke BNI tempat saya membuka rekening. Semoga tepat waktu, ya...

2 komentar:

  1. Aku baru tahu kalau sekarang usia 5 bulan udah bisa buka tabungan, eum... dahulu pernah buka di BRI utk anak kecil, trus produk itu ditutup... syukurlah ternyata skr ada lagi. :)

    Jadi Zai bentar lagi punya buku tabungan, dong?

    BalasHapus
  2. Aku juga mau bikin tabungan untuk anak. Tapi, nanti... Punya anak dulu. :|

    BalasHapus